SAYEMBARA

Menggangkat Langit

Begawat:
Wahai gemati, sejenak telah kau duduki singgasana sabar ini. Siapakah gerangan yang kau nanti?
Gemati:
Ampunkan diriku, baginda begawat yang
bijaksana, pembawa cahaya kebenaran. Semoga diriku tak mengganggu semedimu. Aku
sengaja menunggu di sini agar bisa berkonsultasi denganmu.
Begawat:
Wahai Gemati, bukankah kau masih ingat saat
kita berlatih ilmu pedang bersama di padepokan ini? Sekarang, teman-teman
seperguruanmu sudah pergi mengikuti sayembara menaklukan Langit. Mereka ingin
menguji kehebatan ilmu bilah pedangnya dalam sayembaran itu. Lalu, mengapa kau
masih di sini? Apa yang membuatmu ragu untuk ikut serta dalam sayembara yang
mengasyikkan itu?
Gemati:
Yang mulia begawat, mohon ampun atas segala
kekuranganku. Aku memang murid yang paling bodoh di antara murid-muridmu.
Sebenarnya, aku sudah mencoba mengikuti sayembara. Namun, di tengah perjalanan,
aku menghadapi banyak rintangan sehingga terpaksa kembali ke sini. Ingin sekali
aku bertanya banyak hal, Begawat guru. Aku juga ingin menceritakan pengalaman dalam
mengikuti sayembara itu.
Begawat:
Gemati, bukankah kau tahu bahwa pintu gerbang
istana ilmu selalu terbuka lebar untukmu? Aku selalu siap menjawab setiap
pertanyaanmu, siang maupun malam. Jadi, apa yang sebenarnya ingin kau tanyakan?
Aku sangat ingin mendengar kisah petualanganmu dalam sayembara itu.
Ceritakanlah padaku dari awal. Siapa yang menyelenggarakan sayembara itu?
Bagaimana caranya seseorang bisa ikut serta? Apa hadiah yang diperebutkan? Dan
siapa saja lawan-lawan tangguh yang kau hadapi?
Gemati:
Baginda begawat, ada hal yang sangat
membingungkanku. Para peserta lomba menceritakan bahwa lomba ini konon diselenggarakan
oleh orang bijak bestari bernama Sesepuh Berambut Putih. Namun, ada kabar yang
mengatakan bahwa orang itu telah tiada. Aku penasaran, bagaimana mungkin sayembara
ini masih berlangsung jika penyelenggaranya sudah tiada?
Aku mendengar bahwa aturan sayembara juga aneh, hanya bisa
didengar setiap pas sepertiga malam. Suara itu berasal dari langit,
namun tidak ada yang tahu dari mana asalnya. Konon, hanya orang-orang suci yang
bisa mendengar suara itu. Aku pernah berusaha membersihkan hati dan berusaha
berpikir jernih, dan ternyata aku juga bisa mendengar suara itu. Namun, yang
mengherankan lomba itu akan diadakan di tempat yang disebut 'tanpa batas'. Sebelum
pergi ke sana, aku ingin sekali meminta nasihatmu begawat. Aku merasa ada
banyak misteri dan juga hal-hal aneh yang telah aku alami. Mohon doakan aku agar
selamat dalam sayembara itu.
Begawat:
Wahai Gemati, tahukah engkau? Bahkan langit pun
sangat merindukan bumi. Dan sekarang, saat kau kembali menceritakan kisah
petualanganmu, hatiku juga merasa seperti langit yang telah menemukan buminya.
Bukan karena rindu, melainkan karena bahagia melihatmu tumbuh dan berkembang. Ceritakanlah
padaku siapa saja yang kau temui dalam perjalananmu, seperti apa rintangan yang
kau hadapi, dan hal-hal menarik apa saja yang kau lihat.
Gemati:
Ampunkan diriku begawat guruku, aku masih belum mengerti apa yang begawat maksud. Aku juga bingung mengapa begawat meneteskan air mata, juga belum paham dengan perumpamaan langit dan bumi itu. Tetapi, akan ku ceritakan semua perjalananku saat itu. Aku melihat begitu banyak manusia disana, laki-laki, perempuan, tua, muda, mahasiswa, pedagang, politisi, pejabat, presiden, bupati, mahasiswa, dosen, rektor, guru, murid, semua orang disana. Anehnya aku melihat sosok yang sangat mirip denganmu begawat, juga mengikuti sayembara. Bahkan ciri-ciri sesepuh berambut putih juga ada, aku juga melihat bayangan diriku sendiri. Rasanya seperti seluruh manusia di dunia ini berkumpul di satu tempat yang sangat luas. Aku tidak melihat satupun hewan di sana. Tempat itu benar-benar asing dan penuh misteri.
to be continue....
Komentar
Posting Komentar