Metafisik?
Metafisika merupakan bagian dari aspek ontologi ilmu dalam
kajian filsafat. Metafisika merupakan bagian Falsafah tentang hakikat
yang ada di sebalik fisika. Hakikat yang bersifat abstrak dan di luar jangkauan
pengalaman manusia. Sederhananya, metafisika adalah studi tentang hal-hal yang
berada di luar jangkauan ilmu pengetahuan empiris. Metafisika berusaha memahami
realitas yang lebih mendalam dan abstrak, seperti keberadaan Tuhan, jiwa, atau
makna kehidupan.
Keberadaan metafisika dalam ilmu pengetahuan memberikan
banyak wawasan bagaimana metafisika merupakan hal substantive dalam menelaah
lebih jauh konsep keilmuan dalam menunjang kejayaan manusia didalam berfikir
dan menganalisis.
Metafisika dapat dianggap sebagai "Filsafat
di balik Fisika". Jika Fisika menjelaskan bagaimana alam semesta bekerja,
Metafisika mencoba memahami mengapa alam semesta ada dan apa makna di balik
keberadaannya.
Percakapan sederhana berikut akan mempermudah dalam memahami apa itu metafisika?
*METAFISIK*
Gareng:
Rama, Tejamaya itu siapa?
Semar:
Tejamaya itu metafisiknya Togog.
Gareng:
Metafisik?
Lha metafisiknya rama Semar?
Semar:
Metafisiknya Semar itu ilmu. Metafisiknya Gareng itu hati. Metafisiknya Petruk itu perbuatan atau perilaku. Metafisiknya Bagong itu kenyataan.
Gareng:
Apakah metafisiknya saya hanya hati?
Semar:
Metafisik itu banyak, tidak tunggal. Metafisikmu itu selain dirimu.
Gareng:
Wa lah kok malah bingung aku?
Semar:
Metafisik, meta itu maksud di sebaliknya yang engkau lihat atau dengar.
Gareng:
Wah semakin pusing kepalaku?
Semar:
Daun ini warnanya apa?
Gareng:
Daun itu warnanya hijau.
Semar:
Itu benar bagi pikiran dan pengelihatanmu. Tetapi aku sedang berpikir yang tidak sama dengan pikiran dan penglihatanmu.
Gareng:
Ya semua orang pasti akan mengatakan daun itu hijau.
Semar:
Itu
karena kamu dan yang lain tidak melihat dan berpikir metafisiknya.
Gareng:
Lha
metafisik warna daun hijau itu apa?
Semar:
Ilmu,
pengetahuan dan teknologimu akan menentukan jenis metafisiknya.
Gareng:
Metafisik
kok perlu ilmu?
Semar:
Secara
metafisik, daun ini warnanya justru selain hijau atau bukan hijau.
Gareng:
Kamu
aneh, jelas daun itu warnanya hijau kok dikatakan bukan hijau. Lha kalau bukan hijau, apa warna daun itu.
Semar:
Secara
metafisik, warna daun itu ya selain hijau, bisa merah, kuning, biru, ungu, dst.
Gareng:
Kok
bisa?
Semar:
Inilah
gunanya ilmu. Warna itu adalah sinar yang engkau lihat dan pikir. Engkau tidak
akan pernah bisa melihat benda jika tidak ada sinar yang dipantulkan atau
keluar dari benda itu.
Gareng:
Apa
iya?
Semar:
Coba
lihat ini. “semar berjalan kearah sakelar dan mematikan sakelar lampu”. Semar berkata: Lampu saya matikan. Mana
daunnya?
Gareng:
Wah
gelap, semua hitam. Berarti daunnya warnanya hitam ya?
Semar:
Betul
sekali. Sekarang, sakelar lampu kuning saya nyalakan.
Gareng:
Kok
daunnya menjadi berwarna kuning?
Semar:
Betul
sekali. Sekarang saya nyalakan lampu merah.
Gareng:
Kok
daunnya jadi berwarna merah?
Semar:
Betul
sekali. Sekarang pintu dan jendela saya buka, semua lampu saya matikan. Sinar
matahari dari luar menyinari daun.
Gareng:
Wah
sekarang daunnya menjadi berwarna hijau.
Semar:
Betul
sekali. Jadi warna benda itu tergantung sinar yang keluar atau memantul dari
benda itu. Maka secara metafisik, warna dari daun ini adalah _semua warna_
kecuali hijau. Sebab warna warna yang lain terserap oleh daun, dan telah
menjadi milik daun. Sedang daun tidak mampu menyerap warna hijau, maka warna
hijau memantul sampai penglihatan dan pikiranmu, kemudian kamu mengatakan daun
ini berwarna hijau. Secara metafisik, itu keliru. Jadi secara metafisik, semua
penglihatan kita akan warna benda itu keliru. Yang bukan warna milik benda itu
yang terpantul ke mata kita itulah yang selalu kita sebut warna benda.
Bagong:
Dolanan
metafisik itu apa gunanya?
Semar:
Eee semua kenyataan mempunyai metafisiknya sendiri sendiri. Maka semua pikiran,
perasaan, ibadah, doa, keyakinan, maksud, tujuan, ucapan, tulisan dst mempunyai
metafisik masing masing.
Bagong:
Iya
gunanya untuk apa?
Semar:
Mengerti
banyak maksud dari maksud maksud, mengerti banyak maksud dari perbuatan,
mengerti banyak maksud dari tulisan, ucapan dan kenyataan itulah yang dimaksud
orang berilmu. Maka sebenar benar ilmu itu adalah metafisik.
Petruk:
Apa
metafisik bisa untuk pendidikan moral rama?
Semar:
Naudzubilah mindzalik. Sebenar benar godaan syaitan kepada manusia adalah godaan
metafisik, yaitu menggoda manusia dengan ketidak tahuan manusia sendiri. Maka
penyakit hidup manusia ialah manakala dia sudah tergoda metafisiknya syaiton,
yaitu merasa mengerti banyak perkara. Maka pendidikan moral yang diperlukan
adalah pendidikan agar manusia secara metafisik mampu mengetahui beberapa
maksud dibalik perkara. Sebenar benar manusia bermoral jika dia mampu mengakui
tidak mengerti beberapa atau banyak perkara.

Komentar
Posting Komentar