Hati, Pikiran, dan Dunia (Pencarian Kebenaran)
Gemati:
Guru
mulia, hamba telah menyebrangi samudra pengetahuan, namun selalu tersesat.
Apakah lautan ini terlalu luas, atau hamba yang keliru memilih arah?
Begawat:
Anakku, janganlah berkecil hati. Dalam dan luasnya lautan ilmu, kesalahan itu adalah kompas yang akan menuntunmu pada kebenaran. Jikalaupun kamu tersesat di belahan lautan sana, setiap ayunan dayungmu adalah petunjuk menuju jalanmu yang benar.
Fallibilisme adalah prinsip filosofis
bahwa manusia bisa salah. Konsep ini sangat penting bagi ilmu pengetahuan, ini
dikarenakan ilmu pengetahuan mencari validitas kebenaran. Karena itu mereka
mengharapkan suatu pengetahuan menjadi seakurat mungkin. Ketika “anak melakukan
kesalahan” itu ialah bagian dari “kebenaran dalam filsafat” (faham
fallibilisme). Jangan tergesa menyalahkan anak jika Salah dalam menjawab
pertanyaan. Karena jika dia belum belajar, maka jawaban-nya yang Salah menjadi
Benar dalam keadaannya. Jika anak belum membaca petunjuk, maka adalah Benar
jika nilainya adalah nol.
Dalam konteks pendidikan, Fallibilisme
menggarisbawahi pentingnya toleransi terhadap kesalahan. Seorang siswa yang
memberikan jawaban salah tidak serta-merta dianggap bodoh, melainkan sedang
berada dalam proses konstruksi pengetahuan. Guru, sebagai fasilitator
pembelajaran, berkewajiban menciptakan lingkungan yang kondusif bagi eksplorasi
dan eksperimentasi, tanpa rasa takut akan kegagalan.
Nilai yang kurang memuaskan merupakan indikator
proses penjelajahan intelektual masih tengah berlangsung. Dengan demikian,
pembelajaran bukanlah semata-mata mengejar nilai, melainkan sebuah perjalanan
menuju pemahaman yang lebih mendalam tentang realitas. Persoalan/hambatan/masalah
seyogyanya bukan menguji kemampuan, tetapi sebagai pemantik “kesadaran bahwa
belum faham itu penting”. Oleh karena itu agar pengetahuanmu (siswa) dapat
meningkat maka tingkatkanlah bacaan sehingga nantinya dapat berfikir isomorfis
dengan guru-nya. Jika engkau ingin belajar filsafat kepada dewa, maka
pelajarilah pikiran-pikiran dewa itu.
Gemati:
Lalu,
bagaimana caranya agar pikiran kita dapat selaras (isomorfis) dengan pikiran
para bijaksana? Bagaimana cara berpikir yang sejalan dengan hukum alam semesta?
Begawat:
Anakku, bayangkan pikiran kita seperti peta yang melukiskan Indonesia. Petamu dan petaku mungkin berbeda corak dan warnanya, namun keduanya pasti menunjuk ke arah yang sama, misalnya ke kota surabaya. Inilah yang kita sebut kesamaan, atau dalam bahasa kita, keselarasan. Namun, ada peta yang sangat sederhana, hanya menandai pulau dan lautan, ada pula yang sangat rinci, sampai menandai setiap jalan kecil. Begitu pula pikiran kita. Ada yang luas, ada yang terperinci. Tugasmu adalah membuat peta pikiranmu semakin rinci, agar semakin mirip dengan peta gurumu. Namun ingat, peta yang sempurna hanya milik Sang Pencipta.
Begawat:
Anakku, ujian Filsafat bagaikan lautan luas yang tak bertepi. Semakin jauh kita berlayar, semakin banyak pulau pengetahuan yang kita temui. Namun, janganlah terlena oleh keindahan pulau-pulau itu. Ingatlah, di balik setiap pulau, masih ada samudra yang lebih luas. Seorang pelaut yang bijaksana tidak akan pernah merasa telah mencapai tujuan akhir pelayarannya. Pelaut bijaksana akan selalu memedomani kompas-nya sebagai keamananya yaitu iman dan taqwa.
Pernahkah kau mendengar kisah tentang
seorang pendekar sakti yang begitu mahir dalam ilmu pedang hingga ia tidak
perlu lagi memikirkan setiap gerakannya? Pedangnya bergerak secepat kilat,
mengikuti naluri dan intuisinya. Begitu pula dengan doa. Sebenar-benar doa yang
tulus adalah doa yang lahir dari kedalaman hati, tanpa perlu diungkapkan dengan
kata-kata yang panjang lebar.
Sebenar-benar filsafat adalah pemahaman diri kita sendiri untuk menemukan kesadaran hati. Ketika kita mencapai tingkat pemahaman yang lebih dalam, kita akan menemukan 'hati' kita yang memiliki kecerdasan, ilmu, dan metode nya tersendiri.
Namun, hati manusia bagaikan lautan yang tak terhingga dalamnya. Kita mungkin dapat menjelajahinya, namun tidak akan pernah benar-benar memahaminya sepenuhnya. Bahasa dan pikiran kita hanyalah perahu kecil yang mengarungi lautan itu. Banyak misteri yang tersembunyi di kedalaman hati yang tak dapat dijelaskan dengan bahasa dan pikiran.

Komentar
Posting Komentar