Fenomena Intoleransi (Definisi mahasiswa)

Narasi
dibawah ini lahir dan disusun berdasarkan nilai-nilai percakapan bersama mahasiswa sore
hari itu, di tahun 2024. Gambaran yang memuat keadaan pemahaman intoleransi mahasiswa didalam sudut pandang-nya, sehingga penting untuk diterjemahkan menjadi
suatu database (mungkin).
Percakapan dibawah ini menggambarkan keadaan intoleransi, bukan hanya sekadar masalah yang dihadirkan individu-individu, namun (mungkin) cerminan sistem dan budaya yang lebih luas. Disamping itu percakapan menyajikan isu-isu yang mungkin saja sebagai pemicu utama intoleransi, isi percakapan juga menawarkan alternatif pemikiran dan tindakan ideal untuk menciptakan lingkungan akademik yang lebih inklusif. Semoga memberi manfaat dan memperkaya wawasan bersama.
Sumatra:
Sulit
sekali rasanya menjadi mahasiswa di kampus itu. Setiap kali mencoba
menyampaikan pendapat yang berbeda, selalu ada saja aturan yang membatasi.
Sulawesi:
Iya,
aku juga merasakan hal yang sama. Kita seperti dipaksa untuk berpikir dalam
satu kotak.
Papua:
Ini
bukan toleransi namanya. Justru ini lebih mirip intoleransi terhadap perbedaan
pendapat.
Kalimantan:
Menurutku,
pihak kampus ingin kita semua seragam dalam berpikir. Mereka menghindari adanya
ide-ide baru yang muncul.
Jawa:
Kalian
mungkin benar. Fenomena yang kalian alami itu memang menunjukkan adanya
intoleransi dalam rumah kita. Intoleransi dalam konteks ini berarti
ketidakmampuan atau ketidakmauan untuk menerima perbedaan pendapat, gagasan,
dan cara pandang. Sebenar-benar itu sebagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan
yang dilakukan oleh mereka yang merasa memiliki kebenaran mutlak.
Maluku:
Tapi,
kenapa sih kampus biasa bersikap
seperti itu?
Jawa:
Hirarki
kekuasaan di kampus kemungkinan membuat mereka merasa berhak untuk menentukan
apa yang benar dan apa yang salah. Mereka yang berada di puncak hierarki merasa
memiliki otoritas mutlak untuk membiaskan
suara-suara yang dianggap berbeda. Padahal, kebenaran itu bersifat relatif dan
terus berkembang seiring berputarnya waktu.
Sumatra:
Lalu,
bagaimana caranya berkontribusi dalam memperbaiki situasi ini?
Jawa:
Perubahan
harus dimulai dari diri sendiri, berikan energi, tenaga dan pikiran yang lebih
segar agar sekitar merasakan entitasmu. Sampaikan pikiran-pikiran positif,
meski pasti berbeda dengan pemikiran yang ada. Sebenar-benar esensi toleransi
adalah yang tidak hanya tentang menerima perbedaan, tetapi juga tentang
menghargai dan menghormati perbedaan. Pluralitas juga merupakan kekayaan yang
harus dijaga bersama, sebagai suatu biodiversitas.
Kalimantan:
Tetapi,
jikalau terlihat berbeda, takutnya akan mendapat masalah-masalah.
Jawa:
Memang
benar ada risiko disebalik setiap usaha. Namun, kebaikan hanya berarti mitos
jika tidak pernah disampaikan. Kebebasan akademik adalah hak kita sebagai
mahasiswa. Kita berhak untuk berpikir kritis dan menyampaikan pandangan
akademik tanpa takut akan tekanan.
Sumatra:
tetapi
apakah institusi itu dapat melihat itu?
Jawa:
adalah
rahasia umum bahwa nuansa institusi seyogyanya beraroma wangi yang dipenuhi
pemikiran-pemikiran murni akademisi. Seperti aromanya wangi orang dewasa.
Sulawesi:
Bagaimana
kalau kita mengusulkanya dalam diskusi terbuka saja, didalam mimbar akademik
yang ilmiah?, berbasiskan asas-asas kebutuhan, keterbukaan, dan kepastian data.
Jawa:
Itu
juga ide yang bagus. Konsep all out
didalam pemikiran dan tindakan yang mengarah pada kebaikan bersama, untuk
menciptakan kebaikan-kebaikan yang lebih bermartabat dan bermaslahat.
Komentar
Posting Komentar