Fenomena Intoleransi (general)
Intoleran bisa diartikan sebagai ketidakmampuan atau ketidaksiapan menerima perbedaan padangan, kepercayaan dan perilaku orang lain. Selama hanya terbatas pada tataran sikap dan gagasan, pandangan intoleran adalah sesuatu yang normal. Karena setiap orang cenderung untuk membenarkan keyakinan yang telah dipercayainya, namun intoleran akan (mungkin) mulai menjadi persoalan ketika diterjemahkan dalam bentuk tindakan.
Untuk dapat
memahami esensi intoleransi secara umum, ada baiknya membaca narasi berikut ini
sampai akhir.
Sum:
Intoleransi
itu apa to sul, pap, kal, mal, jaw?, aku merasa kebingungan dengan sikap
sebagian orang yang begitu sulit menerima perbedaan.
Sul:
Aku
melihat intoleransi sebagai bentuk ketidakpedulian. Seperti hidup didalam dunia
sendiri tanpa perlu ada realitas orang lain.
Pap:
Betul
sekali, intoleransi itu sama saja dengan tidak toleran. Artinya, kita enggan
berbagi ruang-waktu dengan mereka.
Kal:
Menurutku,
intoleransi itu mau menang sendiri.
Mal:
Bagaimana
pandanganmu tentang hal ini?, jaw...
Jaw:
Rekan-rekan
sekalian, definisi kalian sungguhlah menarik. Namun, mari kita renungkan
sejenak. Setiap individu memiliki pandangan yang unik, terbentuk dari
pengalaman hidup, pengetahuan dan teknologi yang berbeda-beda.
Pandangan
itu memiliki sifat layaknya bintang di alam semesta, masing-masing memancarkan
cahayanya sendiri. Tetapi apapun pandangan kalian semua itu adalah intuisi dan hipothesis. Namun, kita seringkali terjebak dalam sifat yang egosentris,
menganggap pandangan kita sebagai satu-satunya kebenaran. Padahal, kebenaran
itu bagaikan lautan yang luas, tak terhingga dalamnya.
Intoleransi
muncul ketika kita menolak untuk melihat keindahan dalam keberagaman. Juga layaknya
sebuah taman, keindahan taman terletak pada keberagaman bunga yang tumbuh di
dalamnya. Jika kita hanya ingin melihat bunga mawar, kita akan kehilangan
keindahan bunga tulip, bunga matahari, dan berbagai bunga lainnya.
Sum:
Iya,
melihat gejala yang muncul saat ini di masyarakat sepertinya ada fenomena
intoleransi.
Jaw:
Wahai
sum kolegaku, maksudmu telah kupahami. Engkau menyinggung tentang intoleransi
yang seringkali dikaitkan dengan paham yang kaku dan sempit, begitu kan?.
Intoleransi
itu adalah kebalikan toleransi. Toleransi itu berarti kemerdekaan, bebas tetapi
bertanggung jawab, keterbukaan, akses informasi dan teknologi, demokrasi,
kesamaan hak dan kewajiban, pengakuan hak dan kesadaran melaksanakan kewajiban,
inovasi dan kreativitas, sama, kebersamaan, beda, perbedaan, kebinekaan,
toleransi itu pilihan atau alternatif, toleransi itu hak asasi dan kewajiban
asasi manusia, toleransi itu hidup, toleransi itu pikiran dan juga perasaan,
toleransi itu menterjemahkan, toleransi itu bahasa, toleransi itu silaturahim,
toleransi itu hermenitika.
Dari pandangan
ekstensinya, toleransi itu berarti titik, garis, bidang, ruang, sempit,
sendiri, bersama, semua, luas, bersama, sedikit, banyak, pluralitas.
Dari
intensitasnya, toleransi itu ethernity, langit, udara, angin, uap, api, bumi,
tanah, batu, air, melayang, menerawang, transformasi, mengembang, ringan,
sedang, berat, rendah, tinggi, relatif, hakiki. Maka aku bisa katakan jika
tidaklah demikian itu maka aku sebut sebagai intoleransi.
Mal:
Sejujurnya
aku masih bingung dengan pernyataanmu barusan, jaw. seperti, bagaimana
mungkin batu memiliki sifat toleransi (menurut intensitasnya)?
Jaw:
Saudara,
ketahuilah bahwa segala sesuatu di alam semesta ini saling terkait. Batu-batu
yang menyusun gunung, misalnya, bekerja sama menahan air dan tanah agar mereka tidak
longsor. Keadaan aman saat ini antara lain disebabkab oleh toleransinya para
batu-batu itu. Maka, apabila batu sudah tidak bertoleransi lagi, bencana alam
seperti tahan longsor, banjir, tsunami, gunung meletus akan sering terjadi.
Itulah yang saya maksud dengan toleransi sebagai fungsi intensitasnya. Itu adalah
bahaya intoleransi dari batu saja, belum angin, air dst, yang dapat menjadikan
bencana lebih besar. Apalagi intoleransi dari manusia?
Sum:
Lalu,
bagaimana dengan intoleransi dalam hal pemikiran atau pemahaman?
Jaw:
Untuk
memahami hal itu, kita perlu melihat hierarki atau struktur dunia dari bawah
keatas. Mulai dari benda-benda mati, kemudian aturan-aturan, lalu pikiran kita
(pengetahuan atau ilmunya manusia, paham, filsafat, aliran ilmu, macam macam ilmu),
perasaan (hati, etik, estetika, nilai baik-buruk), keyakinan kita dan
seterusnya hingga pada tingkat yang paling tinggi yaitu hubungan kita dengan
Allah swt (ilmu makrifat).
Sum:
Lalu
bagaimana maksudmu dengan hirarkhi itu?
Jaw:
struktur
dunia itu ekstensif dan intensif. Hirarki itu artinya intensif, tingkatan atau
kedalaman. Kamu bisa menyebabkan intoleransinya batu dengan cara melemparkannya
hingga mengenai seseorang. Sehingga intoleransinya batu itu menggambarkan
intoleransimu kepada seseorang. Namun jika Alloh SWT berkehendak menciptakan
intoleransinya batu secara besar besaran misal Gunung meletus, maka semua tanpa
kecuali akan terkena dampaknya, dan yang membedakan dampaknya hanyalah sifat
ekstensi atau cakupannya.
Sum:
Intoleransi
pemahaman tadi belum dijawab, apa maksudnya?
Jaw:
Paham/pemahaman,
jika itu dalam ranah manusia maka belum sampai kepada Kuasa Alloh SWT kecuali
hanya berikhtiar menuju ke sana. Pemahaman manusia hanyalah secuil dari
keseluruhan kebenaran. Seluas apapun pikiran manusia, ia takkan pernah mampu
menjangkau seluruh kebenaran, maka ruang lingkupnya hanya sebatas ruanglingkup
filsafat. Ketahuilah filsafat itu debatable sebab aku beda dengan kamu.
Sedangkan filsafat itu adalah diriku atau dirimu sendiri.
Pikiran
manusia terbatas pada urusan dunia fisik. Perbedaan pemahaman adalah hal yang
wajar karena dunia ini memang penuh dengan keberagaman. Toleransi adalah sikap
menerima perbedaan ini. Maka toleransi manusia itu hanya urusan dunia, yaitu
urusan mengikuti hakekat perbedaannya. Sebaliknya, intoleransi mutlak merupakan
sunatullohnya yang merupakan Kuasa Nya. Tidak ada toleransi bagi dirimu untuk
menjalankan Perintah dan meninggalkan Larangan Nya. Artinya sebenar benar
toleransi ataupun intoleransi mutlak adalah hanya milik Alloh SWT semata.
Sedangkan manusia itu adanya hanyalah toleransi atau intoleransi relatif.

Komentar
Posting Komentar