Disebut Dewa Karena ada Daksanya

Hasil gambar untuk assalamualaikum
Interaksi sosial merupakan fondasi utama dalam perkembangan manusia. Hubungan antar individu, seperti guru dan murid, mencerminkan dinamika saling mempengaruhi yang kompleks. Konsep dualitas, seperti siang dan malam atau positif dan negatif, menjadi alat analisis yang berguna untuk memahami berbagai fenomena dalam kehidupan.

Filsafat memberikan landasan teoretis yang kuat untuk memahami proses pembelajaran. Hubungan antara guru dan murid dapat dianggap sebagai sebuah dialektika, di mana keduanya saling belajar dan berkembang. Melalui refleksi filosofis, relasi antara guru dan murid (atau dewa dan Daksa) dapat dianalisis lebih mendalam. Sebenar-benar merefleksi yang baik adalah seorang guru yang juga senantiasa belajar dari muridnya, dan sebagai seorang murid yang juga memiliki seperti gurunya. Bagaimanapun, dinamika ini seringkali kompleks dan penuh nuansa.

Judul "Disebut dewa karena ada daksanya" ini ditulis untuk mencerminkan pemahaman bahwa relasi guru-murid memiliki makna filosofis yang mendalam, mengangkat nilai-nilai moral serta educative. Analogi dewa dan Daksa digunakan untuk menggambarkan bagaimana dalam setiap hubungan, kedua belah pihak saling mempengaruhi dan melengkapi.


-------  Disebut Dewa Karena ada Daksanya  -------

Dewa hanyalah sebuah pemaknaan, simbolisasi dari sesuatu yang berdimensi lebih tinggi dari umumnya. Dewa mencerminkan sifat unggul selayaknya sebagai panutan, barometer oleh pencontoh untuk mengaktualisasikan diri yang dalam hal ini ialah para daksanya. Nilai fenomena dewanya yang menjadikan dewa harus memiliki unsur-unsur tertentu yang mengangkat ianya berkapasitas yang berarti bahwa adanya ontologi yang dapat diterima, dimengerti oleh kebanyakan daksa. Sebagaimana cirinya, dewa adalah pusat epitisme bagi yang menganggapnya dewa, beretika sebagai satuan kesusilaan. Dimilikinya etika yang bersifat absolut artinya bahwa akan bermakna mutlak sesuatu baginya yang dia perlihatkan, terlihat baik (perbuatan) mendapat pujian dan sesuatu yang salah semestinya sanksi ukuran diranah daksanya. Tanpa harus mengatakanya dewa, dewa nyatanya dewa oleh daksanya. Ini mempertegas bahwa dewa ialah yang bagaimana mampu memberikan support, pengendali daksanya agar mampu menyarap, menerima dan bahkan mengkondisikan kesetaraan bahwa daksapun juga mampu sebagai dewa dan berdimensi sama dengannya. Itulah refleksi setingginya nilai dewa bagi seorang daksa. 

Kamuflase demagogi dewanya oleh daksa yang akan mendampakkan adanya sisi deviasi negatif dari dewa seperti penghakiman dari tindakan semenanya. ketika hal itu terangkat (terihat sisi negative) konsekuensi nyata ialah menghilangnya, meng-abu dan tereduksinya kepercayaan sebagai dewa oleh daksanya. Dewa juga akan bernaluri sebagai daksa ketika dia tidak sesuai komitmen dengan logosnya. Akan memiliki sifat daksa disaat dewa berhenti, bahkan dapat hanya menjadi sebuah mitos disaat dewa tidak berusaha ada, pengada dan mengada. Dengan karakter didaktiknya dewa yakni hukum menanamkan pengetahuan kepada daksanya, dewa akan menuju kesempurnaan. Terangkatnya daksa menjadi dewa ialah fenomenologi taraf keberhasilan dewanya. Dengan eskalasi pengetahuan daksa, similaritas pendekatan, maupun fundamen (dasar) yang ditampakkan daksa itulah seyogiyanya prosesur atau tolak ukur daksa menuju dewa.

Dewa juga memiliki sifat universal yang mampu membawa dirinya dalam posisi apapun berpangkat seperti daksa berwibawa seperti dewa serta dapat berinteraksi ke segala aspek seperti merangkul, bersifat membaur. Bernilainya pemaknaan dewa karena pengukuhan daksanya, yang berarti atas dasar kesinerginya keduanya sehingga sebenar-benarnya daksa adalah refleksi atas dewa nya. Oleh karena itu sebuah kewajiban dimilikinya karakter dewa ialah yang vertikal-horizontal. Vertikal dengan sadar diri selalu ada dewa yang mempunyai dewa, horisontal menempatkannya dengan hanya karena daksa ia disebutnya dewa. Sehingga kemungkinan akan hilangnya kesalahan yang benar-benar fatal ketika dewa menganggap dan memposisi dirinya sendiri sebagai utamanya dewa dan melakukan hal yang sewena-wena terhadap daksanya. Karena Dewa absolute adalah sang Pencipta dewa.



@bicil

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERLUNYA IDENTITAS

Fenomena Intoleransi (Definisi mahasiswa)